MafiaNews.id | Polman — Ketua Panitia Polman Cup VI 2026, Enso Tenggara, menyayangkan sikap manajer Pinrang FC yang meluapkan protes terkait kepemimpinan wasit melalui media sosial usai pertandingan melawan JENS FC di Stadion S. Mengga, Polewali Mandar, Selasa (28/4/2026).
Kekecewaan pihak Pinrang FC muncul setelah wasit memberikan hadiah penalti kepada JENS FC dalam pertandingan tersebut. Dalam unggahan yang beredar di media sosial, pihak Pinrang FC menyampaikan permohonan maaf karena tidak dapat hadir pada pertandingan kedua sekaligus menyoroti keputusan wasit yang dinilai merugikan tim mereka.
Menanggapi hal itu, Enso Tenggara menegaskan bahwa panitia selalu menginginkan pertandingan berjalan fair dan profesional. Ia menilai keputusan wasit di lapangan sudah tepat sesuai situasi pertandingan.
“Kami menginginkan wasit benar-benar fair dalam memimpin pertandingan. Kemarin wasit sudah mengambil keputusan yang akurat. Biasanya kalau sudah kalah semua menyalahkan wasit, tapi kalau menang tidak ada masalah,” ujar Enso.
Enso juga mengaku kecewa karena protes tersebut disampaikan melalui media sosial, bukan melalui mekanisme resmi yang telah disiapkan panitia pertandingan.
“Kalau ada komplain terkait wasit, seharusnya diselesaikan di lapangan melalui humas pertandingan, bukan dibawa ke media sosial. Itu tidak sepantasnya dilakukan seorang manajer,” tegasnya.
Meski sempat menimbulkan polemik, Enso memastikan situasi pertandingan tetap aman dan kondusif. Ia menyebut manajer Pinrang FC juga telah menyampaikan permohonan maaf melalui grup peserta turnamen.
“Ada permohonan maaf di grup peserta atas pernyataan yang disampaikan di media sosial. Manajernya juga tidak sempat datang karena bersamaan ada pertandingan di Bulo Sidrap,” katanya.
Menurut Enso, Pinrang FC tetap mengikuti pertandingan seperti biasa. Beberapa pemain disebut harus membagi jadwal karena tampil di dua turnamen berbeda.
“Ada pemain Pinrang FC bermain di Bulo Sidrap dan juga di sini, sehingga mereka membagi pemain,” jelasnya.
Terkait keputusan penalti yang menjadi sorotan, Enso menegaskan hal tersebut merupakan kewenangan penuh wasit di lapangan. Ia menilai protes dalam sepak bola merupakan hal wajar selama tidak melebar ke luar pertandingan.
“Kalau protes di lapangan itu biasa dalam sepak bola. Yang penting jangan sampai melebar menjadi persoalan di luar pertandingan atau dibagikan di media sosial,” ujarnya.
Panitia juga mengakui masih menggunakan wasit lokal pada fase awal turnamen karena sejumlah wasit berlisensi tengah bertugas di Liga 4 Sulawesi Barat yang berlangsung bersamaan.
“Insyaallah memasuki babak delapan besar, kualitas wasit akan kami benahi. Saat ini kami masih memakai wasit lokal karena beberapa wasit dari Mamuju dan Majene sedang bertugas di Liga 4,” terangnya.
Selain itu, Enso menjelaskan pelaksanaan Polman Cup VI turut memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Panitia disebut membayar biaya sewa Stadion S. Mengga sekitar Rp5 juta setiap turnamen.
“Sewa Stadion S. Mengga sekitar Rp5 juta sekali turnamen. Untuk karcis pertandingan, tergantung besaran penghasilan dan 10 persen juga dimasukkan ke daerah,” ungkapnya.
Sementara itu, terkait minimnya kehadiran suporter Tidola Dharma, Enso menilai hal tersebut bukan persoalan besar karena tim tersebut telah memastikan diri lolos ke babak berikutnya.
Hingga berita ini dipublikasikan, MafiaNews.id masih berupaya menghubungi pihak manajer Pinrang FC untuk mendapatkan tanggapan resmi.












